Kembali ke artikel

Debat “Jalanan” di Sosmed, Apa sih Faedahnya?

09 August 2026 | Eko Susilo, S.Kom
Debat “Jalanan” di Sosmed, Apa sih Faedahnya?

Hai, kawan. Belum bosankah debat jalanan di sosmed? Memang gurih seperti gorengan saling unjuk kebolehan bertutur kata atau berargumen di kolom komentar. Gorengan itu memang murah, nikmat dan gampang bikin ketagihan. Tapi, pernahkah di tengah adiksi itu kamu berpikir? Seberapa ilmiahkah argumen-argumen yang beredar? Sempatkah para netizen saling buka data statistik? Ataukah hanya bermodalkan anekdot dan stigma?

Satu contoh yang kerap diperdebatkan adalah stigma atau mungkin epos dengan tema populer “anak putus sekolah atau anak yang dulu bodoh di sekolah biasanya akan jadi pengusaha sukses”. Data yang dibawa biasanya (ah lagi-lagi saya membawa kata “biasanya”) adalah cerita-cerita sukses dari orang-orang yang dikenal misalnya “Si Slamet temanku itu dulu nggak lulus SMP tapi sukses jadi juragan beras” atau “Lihat itu pak Joko, cuma lulusan SMA tapi jadi bos kita”. Atau biar keren orang-orang terkenal macam Bill Gates, Steve Jobs, atau Mark Zuckerberg. Mereka-lah role model orang-orang putus sekolah tapi jadi pengusaha sukses (tapi sayang sekali, contoh-contoh orang terkenal yang saya sebutkan tadi tak ada yang bodoh).

Mengutip dari buku The Black Swan, karya Nassim Nicholas Taleb, yang menceritakan tentang Marcus Tullius Cicero yang juga menceritakan tentang seorang Diagoras atau orang yang tidak percaya kepada para dewa diminta melihat lukisan yang menggambarkan beberapa orang takwa yang sedang berdoa, yang kemudian selamat dari bencana kapal tenggelam. Yang tersirat adalah pesan bahwa doa menyelamatkan orang dari tenggelam. Sang Diagoras bertanya “Mana gambar mereka yang berdoa tapi tenggelam?” Yah… mungkin mereka akan menceritakan pengalaman mereka dari alam baka.

Sekarang cobalah ganti subjek “orang berdoa yang selamat” dengan Si Slamet atau Pak Joko atau.. para drop out yang jadi orang-orang sukses kelas dunia. Lalu gantilah “orang yang berdoa tapi tetap tenggelam” dengan teman kamu yang bodoh di sekolah atau drop out tapi jadi pengangguran, gelandangan atau bekerja serabutan. Mereka itu adalah bukti bisu (silent evidence).

Dimana-mana kalau bisu yang nggak bercerita. Entah nggak bisa cerita atau..memang karena.. siapa sih yang mau dengar kisah pecundang yang tetap jadi pecundang?

Banyak orang terkesima dengan kisah kepahlawanan. Pernahkah berpikir bahwa “pahlawan-pahlawan” itu kemungkinan besar lahir dari keberuntungan dengan probabilitas yang rendah? Jika mereka adalah hasil dari formula “pengusaha sukses yang berasal orang bodoh semasa sekolah atau drop out semasa sekolah”, maka sudah barang tentu sebuah negara dengan tingkat atau kualitas pendidikan rata-rata rendah akan menghasilkan jutaan Bill Gates muda. Atau setidaknya banyak sekali Pak Joko-Pak Joko yang lain.

Dalam buku Thinking, Fast and Slow karya Daniel Kahneman, yang pernah menjadi peraih nobel ekonomi, dikatakan bahwa manusia memiliki kemampuan melompat ke kesimpulan berdasarkan bukti terbatas atas pemikiran intuitif. Disingkat WYSIATI atau what you see is all there is (apa yang kamu lihat, seolah semua ada disana). Sistem berpikir cepat manusia atau dalam buku tersebut dinamai “Sistem 1” tidak peka dengan kualitas atau kelengkapan informasi. Dan lebih peka dengan koherensi cerita. Cerita itulah yang sering tertuang dalam anekdot yang sering dijadikan dasar perdebatan jalanan di sosmed.

Lalu apa sih faedahnya berdebat dengan dasar argumen yang jauh dari kata akurat? Tentunya bukan untuk topik yang saya contohkan diatas saja, tapi untuk berbagai topik dengan karakter yang serupa.

Debat seperti itu ibarat saling lempar bola salju. Alias saling melempar sampel data bukan statistik. Sedangkan perdebatan seperti dalam contoh itu seyogyanya membutuhkan data statistik yang bisa dipertanggungjawabkan.

Sampai jumpa di lain kesempatan

Bagikan artikel ini: